Kamis, 10 Februari 2011 12:00
Stop crying! (c) tportal
Ingin memiliki karier yang cerah? Hapus air mata Anda dan mulailah bersikap profesional.
Be fearless, ladies! KapanLagi.com - Anda pasti pernah berada di dalam situasi di mana emosi Anda ditantang. Sebut saja, ketika proyek Anda dibatalkan setelah berbulan-bulan bersusah payah mengerjakannya; atau saat pelanggan/klien menghardik dengan ketus; atau ketika sahabat di kantor Anda dipecat; atau saat si bos memberikan pekerjaan lain di saat pekerjaan Anda sudah menumpuk.
Di kehidupan pribadi, Anda biasanya akan menghadapi situasi penuh tekanan seperti itu dengan reaksi: menangis, berteriak, atau bahkan mengasihani diri sendiri. Namun di dunia kerja, perilaku seperti itu bisa menjerumuskan Anda. Mengapa? Karena reputasi dan produktivitas Anda dipertaruhkan!
Lantas, bagaimana cara menangani luapan emosi ini dengan benar dan bereaksi secara tepat saat berada di dalam situasi yang kurang menguntungkan? Nah, lewat artikel ini kita akan mempelajari tentang berbagai emosi negatif yang kerap muncul di lingkungan kerja, sekaligus bagaimana cara mengelola emosi tersebut dengan baik.
Apa saja emosi negatif di lingkungan kerja?
Pada tahun 1997, seorang profesor manajemen dari Bond University, Cynthia Fisher, melakukan sebuah studi yang diberi judul Emotions at Work: What Do People Feel, and How Should We Measure It? Dari studi tersebut, ia menyebutkan lima bentuk emosi negatif yang biasanya terdapat di lingkungan kerja, yaitu: frustasi/ kesal, cemas/khawatir, marah, benci dan kecewa/ sedih.
Frustasi/Kesal
Frustasi biasanya muncul ketika Anda merasa stuck, terjebak, atau tak mendapatkan kemajuan berarti dalam pekerjaan. Bisa diakibatkan oleh rekan kerja yang menjegal Anda, bos yang terlalu sibuk sehingga Anda kesulitan menemuinya, atau bahkan dipaksa menunggu di telepon untuk waktu yang lama. Apapun penyebabnya, perasaan frustasi harus segera diatasi, karena bisa memicu timbulnya emosi negatif lain.
How to Deal?
- Evaluasi. Hentikan semua pekerjaan dan temukan penyebab munculnya rasa frustasi itu. Tuliskan faktor-faktor penyebab tersebut di secarik kertas secara spesifik, kemudian pikirkan satu hal positif yang bisa diambil dari situasi itu. Misalnya, jika atasan terlambat untuk meeting, berarti Anda memiliki waktu ekstra untuk mempersiapkan presentasi. Atau lebih baik lagi, Anda bisa rileks sejenak.
- Positive thinking. Jika penyebab Anda frustasi adalah rekan kerja/atasan, mungkin mereka tidak melakukannya dengan sengaja untuk membuat Anda kesal. Jika penyebabnya adalah hal lain, well... tak perlu emosi, just move on!
- Ingat terakhir kali Anda merasa frustasi? Bukannya tak lama kemudian segalanya bisa teratasi dengan baik? Frustasi tak akan memecahkan masalah, jadi percuma saja jika Anda terus memelihara rasa itu.
Cemas/Khawatir
Dengan semakin banyaknya PHK di mana-mana, wajar saja jika banyak yang cemas dengan pekerjaan mereka. Namun kecemasan yang berlebihan bisa mempengaruhi mental Anda, yang ujung-ujungnya akan berdampak pada kinerja.
How to Deal?
- Jangan biarkan diri Anda diliputi kecemasan dan kekhawatiran. Sebagai contoh, jika rekan-rekan kerja lainnya berkumpul di ruang belakang dan bergosip tentang pemecatan rekan Anda yang ketahuan menggelapkan uang, Anda tak perlu ikut-ikutan ke sana dong. Waste of time, ladies!
- Atur napas. Cara ini bisa membantu memperlambat napas dan detak jantung Anda. Hiruplah udara secara perlahan selama lima detik, kemudian hembuskan kembali dalam lima detik. Lakukan secara terfokus agar pikiran kembali tenang. It's zen!
- Kendalikan situasi. Daripada Anda ketakutan akan dipecat lalu seharian mencemaskan pekerjaan Anda, lebih baik diskusikan dengan atasan mengenai bagaimana cara meningkatkan penjualan, dan tunjukkan betapa berharganya Anda bagi perusahaan.
Marah
Marah adalah luapan emosi yang cukup sering terjadi di lingkungan kerja, dan merupakan emosi destruktif yang sulit ditangani dengan baik oleh sebagian besar orang. Jika Anda sulit menahan amarah di kantor, maka mengendalikannya adalah cara terbaik untuk menyelamatkan pekerjaan Anda.
How to Deal?
- Perhatikan gejala awalnya. Andalah satu-satunya orang yang mengetahui tanda-tanda awal sebelum Anda marah. Cari tahu apa penyebab utama Anda marah, karena dari situlah bisa ditemukan cara untuk mengendalikannya sebelum Anda meledak-ledak dan menjadi tontonan orang sekantor.
- Jika kemarahan hampir memuncak, hentikan apapun yang Anda lakukan. Tutup mata Anda dan praktikan teknik pernapasan yang sudah kita pelajari sebelumnya. Ini akan menginterupsi pikiran-pikiran marah dan membalikkan Anda pada situasi yang lebih positif.
- Bayangkan diri Anda ketika sedang marah. Dengan membayangkan diri dan perilaku ketika sedang marah, Anda akan mendapat perspektif baru pada situasi tersebut. Misalnya, kita bayangkan sedang berteriak-teriak tidak karuan, muka memerah dan tangan yang menunjuk ke sana kemari. Apakah Anda ingin bekerja dengan orang seperti itu? Tentu tidak.
Benci
Pasti ada salah satu rekan kerja kita yang tidak kita sukai. Tapi sikap profesionalisme tetap harus dijunjung tinggi.
How to Deal?
- Belajar menghargai. Jika Anda harus bekerja dengan orang yang kurang menyenangkan, maka inilah saatnya menaklukkan ego Anda. Perlakukan orang tersebut dengan wajar dan profesional sebagaimana Anda memperlakukan rekan kerja lainnya. Bila orang ini berperilaku tidak profesional, bukan berarti Anda harus ikut-ikutan kan?
- Jadilah pribadi yang asertif. Jika rekan kerja Anda kurang sopan dan tidak profesional, ajaklah ia berbicara dan sampaikan keberatan-keberatan Anda. Jangan lupa untuk selalu memberikan contoh yang baik.
Kecewa/Sedih
Mengatasi kekecewaan atau kesedihan di tempat kerja bukan perkara mudah. Dari semua bentuk emosi negatif di tempat kerja, dua hal ini mungkin yang paling bisa memengaruhi kinerja dan produktivitas Anda, karena energi Anda akan menurun sehingga banyak tujuan-tujuan yang tak tercapai.
How to deal?
- Ubah cara berpikir. Luangkan waktu untuk menyadari bahwa hidup tak selamanya berjalan sesuai keinginan Anda. Ada kalanya Anda menghadapi lika-liku dan rintangan. But that what makes life interesting, right?
- Selaraskan tujuan Anda. Jika Anda kecewa karena tak berhasil mencapai tujuan, bukan berarti tujuan itu tak lagi terjangkau. Anda hanya membutuhkan sedikit penyesuaian, misalnya dengan memundurkan jadwal deadline. It's legal!
- Catatkan pikiran Anda. Tulislah hal-hal yang membuat Anda sedih. Lalu temukan cara-cara untuk mengatasinya. Ingat, Andalah yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.
- Smile! Mungkin terdengar sedikit aneh, namun senyuman terbukti bisa membuat perasaan kita jauh lebih baik. Coba saja buktikan sekarang juga!