Apakah yang membedakan antara air susu ibu (ASI) dengan susu formula instan?
Dengan bekal penelusuran gen mana yang bekerja pada usus bayi menjadikan para ilmuwan di Universitas Illinois dapat membandingkan perkembangan awal dari bayi yang diberi ASI dengan bayi yang diberi susu formula. Kata mereka perbedaannya sangat nyata.
“Untuk pertama kali kita bisa menyaksikan bahwa ASI dapat menginduksi jalur genetik yang berbeda dari bayi yang diberi minum susu formula. Meskipun pembuat susu formula telah mencoba sedapat mungkin mengembangkan produk yang mirip dengan ASI, ratusan gen diekspressikan secara berbeda pada kelompok yang diberi ASI dengan yang diberi susu formula” kata Sharon Donovan seorang professor bidang nutrisi.
Meskipun kedua bayi pada kelompok yang diberi ASI dan susu formula bertambah berat badannya dan kelihatan sama-sama tumbuh, ilmuwan telah lama mengetahui bahwa ASI mengandung komponen yang dapat melindungi immunitas sehingga membuat bayi yang diberi ASI memiliki risiko lebih rendah dari serangan berbagai penyakit, katanya. Sistem pencernaan dari bayi yang baru lahir mengalami perubahan dalam merespon makanan. Dan respon terhadap ASI melebihi respon terhadap susu formula, hal ini menandakan bahwa komponen bioaktif dalam ASI penting dalam respon ini, tambahnya.
“Apa yang belum kita ketahui adalah bagaimana ASI dapat mencegah bayi dan khususnya bagaimana susu itu mengatur perkembangan pencernaan”, katanya.
Pemahaman akan perbedaan tersebut seyogianya membantu para pembuat susu formula untuk mengembangkan sebuah produk susu yang lebih mendekati susu sebenarnya, katanya. Para ilmuwan berharap dapat mengembangkan gen atau kelompok gen yang mendukung untuk digunakan sebagai pertanda biologis bagi bayi-bayi yang diberikan ASI.
Banyak dari perbedaan itu yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut pada gen yang fundamental yang mengatur perkembangan usus dan menyediakan pertahanan kekebalan bagi bayi. Dalam studi pembuktian konsep kecil ini, Donovan memakai satu tekhnik baru yang di patenkan oleh Texas A&M colleague Robert Chapkin untuk memeriksa ekpressi gen usus pada 22 orang bayi yang sehat dimana 12 orang mendapat asupan lewat ASI sementara 10 orang dengan susu formula.
Teknologi tersebut meliputi isolasi sel usus yang ditempelkan pada kotoran anak, kemudian dibandingkan dengan lambang berbagai gen diantara dua kelompok. Ibu-ibu dalam studi ini mengumpulkan contoh kotoran dari bayi-bayi mereka pada usia 1, 2 dan 3 bulan. Ilmuwan lalu kemudian bisa mengisolasi meteri genetik dengan mutu tinggi dengan konsentrasi untuk mendapatkan satu ekspressi gen.
Donovan berkata bahwa sel usus akan berubah secara lengkap setiap tiga hari karena milyaran sel yang telah dibuat melakukan fungsi mereka akan terkelupas. Pemeriksaan gudang sel adalah cara yang tidak invasif dalam memeriksa kesehatan usus dan melihat bagaimana nutrisi dapat mempengaruhi perkembangan usus pada bayi.
Memahami perkembangan awal usus adalah penting karena berbagai hal, katanya. ”Usus bayi perlu beradaptasi dengan sangat cepat. Seorang bayi yang baru lahir ibarat seseorang yang baru keluar dari lingkungan steril, setelah menerima semua nutrisi secara intravenus melalui plasenta. Pada titik ini bayi-bayi jelas harus mulai makan baik susu ibu maupun susu formula.
Mereka juga mulai diserang bakteri, jadi penting sekali kalau pada fase ini usus harus mempelajari apa yang baik dan yang buruk. Tubuh bayi diharapkan bisa mengenal bakteri atau virus yang buruk dan melawannya, tapi juga perlu untuk mengenal meskipun protein makanan adalah asing, bahwa protein itu tidak apa-apa dan bahwa tubuh tidak ingin mengembangkan respon kekebalan terhadapnya” katanya.
Jika terjadi suatu kesalahan dalam tahap ini. Bayi dapat mengembangkan peningkatan imunitas alergi makanan, penyakit nyeri usus dan bahkan asma. ”Kami tertarik terhadap keberhasilan sampling awal dilakukan pada perkembangan studi awal ini” tambahnya. Donovan juga ingin mempelajari bagaimana bakteri bisa berbeda pada usus bayi yang diberi ASI dengan bayi yang diberi susu formula, melalui teknik ini seharusnya hal demikian memungkinkan untuk dilakukan. Kini kita semua mendapatkan gambaran apa yang sedang terjadi pada seorang bayi – dari komposisi makanan hingga mikroba dalam usus dan gen yang aktif didalamnya”.
Dari sisi kepentingan klinis ekspresi gen paling banyak ditemukan pada bayi yang minum ASI adalah respon sel terhadap kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen adalah satu faktor dalam perkembangan necrotizing enterocolitis (NEC), sejenis kerusakan usus yang bersifat fatal dalam bayi prematur. NEC adalah penyebab penyakit yang dapat mengakibatkan kematian pada bayi baru lahir, pada ruang ICU dilaporkan bahwa ada 2.500 kasus terjadi setiap tahun di Amerika dengan tingkat kematian hingga 26%.
Hasil studi ini dimuat pada majalah American Journal of Physiology, Gastrointestinal and Liver Physiology terbitan Juni 2010.
Ditulis oleh Robert S. Chapkin, Chen Zhao, Ivan Ivanov, Laurie A. Davidson, Jennifer S. Goldsby, Joanne R. Lupton, dan Edward R. Dougherty, semuanya dari Texas A&M University, lalu Rose Ann Mathai dan Marcia H. Monaco dari U of I, serta Deshanie Rai dan W. Michael Russell dari Mead Johnson Nutrition. Study didanai oleh Mead Johnson Nutrition.
Referensi: R. S. Chapkin, C. Zhao, I. Ivanov, L. A. Davidson, J. S. Goldsby, J. R. Lupton, R. A. Mathai, M. H. Monaco, D. Rai, W. M. Russell, S. M. Donovan, E. R. Dougherty. Noninvasive stool-based detection of infant gastrointestinal development using gene expression profiles from exfoliated epithelial cells. Dalam AJP: Gastrointestinal and Liver Physiology, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar